NIM Mailing List
INFORMATION
Pesan Penggagas
Arsip Berita
Tempat Diskusi
PHOTOS & VIDEO
Photos Gallery
Dephan
Videos Gallery
Wallpaper
CAMPAIGN
Buku Kebangsaan
Pesta Rakyat
Diskusi
Penghargaan
Petisi Online
P.P.S.T.K
SIMPOSIUM
2009
2008
2007
2006
2005
AWARENESS
Bibit Disintegrasi
Budaya dlm Gambar
LINKS
Aumkar.org
ForADokSi-BIP
One Earth Media
One Earth Radio
 
 

1 Agustus 2009 - Indonesia and India Cultural Ties

National Integration Movement (NIM) yang merupakan bagian dari Yayasan Anand Ashram mendapat kehormatan untuk menerima kedatangan His Excellency (H.E) Biren Nanda, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh India untuk Indonesia.

His Excellency , yang didampingi sang Istri, Madam Rukmani Nanda, berkenan untuk menjadi pembicara tunggal dalam Diskusi Kebangsaan NIM pada tanggal 1 Agustus 2009 lalu yang bertempat di One Earth, Ciawi. Diskusi kali ini bertema: Indonesia – India Cultural Ties, atau Hubungan Kebudayaan antara Indonesia dan India.



Diskusi kali ini dihadiri lebih dari 120 peserta yang datang dari Jakarta, Bogor dan Bandung, termasuk para mahasiswa dari UIN Ciputat, ITB, Unas, IAIA, dan Unpad.

Dalam paparannya berbahasa Inggris, Ambassador Biren Nanda yang sangat rendah hati ini menegaskan bahwa telah terjadi “arus pertukaran budaya datang dari dua arah yaitu antara India dengan Indonesia, dan sebaliknya” dari ribuan tahun yang lampau. Ini menegaskan bahwa pada saat itu, masing-masing kebudayaan sudah sama-sama berkembang sehingga dapat saling mempengaruhi dan memperkaya.

Resi Walmiki, penulis Ramayana, pernah datang ke Jawa dan menggambarkan Pulau Jawa sebagai kerajaan yang penuh dengan emas. Gilimanuk sebagai pelabuhan tersibuk di kawasan tersebut. Dwipantara, sebutan bagi Nusantara, adalah negara yang sangat kaya kala itu karena hampir semua jalur perdagangan akan melewati Nusantara. Para pelaut dari India memanfaatkan angin dari musim Monsoon untuk berlayar ke kepulauan Nusantara. Kemudian, mereka akan menunggu beberapa bulan, sampai terjadi perubahan arah angin dan berlayar kembali ke India. Ketika masa tunggu itulah terjadi pertukaran budaya, politik, seni, bahkan terjadi perkawinan, dsbnya.



Pada abad ke-7, I-Ching, seorang penulis China, pergi ke Kerajaan Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta. Di Kerajaan Sriwijaya yang kaya karena perdagangan ini telah menjadi pusat pertukaran pelajar antara Sriwijaya dengan India. Bahkan, seorang Guru Besar India, Atisha datang ke Sriwijaya untuk belajar pada Dharmakirti selama 16 tahun.

Menurut Ambassador Biren Nanda, candi-candi yang terdapat di Indonesia adalah yang paling unik di dunia karena hanya dinding candi-candi di Indonesia lah yang memuat ukiran-ukiran yang bercerita lengkap tentang kisah-kisah klasik Ramayana, kearifan lokal setempat, dsbnya. Ilmu pengobatan tradisional India, Ayurveda, banyak mengambil jamu-jamu dan bumbu-bumbu yang kala itu banyak dihasilkan di kepulauan Nusantara.

Keunikan kebudayaan Indonesia adalah keterbukaannya pada budaya luar. Mengambil unsur-unsur budaya luar yang luhur tapi cocok dengan kondisi kebudayaan Nusantara. Sifat terbuka ini memunculkan kekuatan yang luar biasa. Kebudayaan telah menjadi aspek terpenting dan kekuatan baik bagi bangsa Indonesia maupun bangsa India saat ini.

Hal ini diamini oleh Bapak Anand Krishna, penggagas NIM, yang berkenan memberikan kata sambutan bagi Mr. Ambassador. Beliau mengutip buku Professor Arysio Nunes dos Santos, Atlantis The Lost Continent Finally Found, yang memaparkan bahwa sejak kira-kira 11,600 tahun Sebelum Masehi, dataran India dan kepulauan Nusantara adalah satu dataran benua yang besar. Ini terjadi sebelum jaman es berakhir. Ini yang menjelaskan kenapa banyak sekali kemiripan antara kebudayaan Indonesia dengan India, karena berada pada satu wilayah peradaban yang sama.



Peradaban tinggi Atlantis yang sangat dielu-elukan itu, sebenarnya, terdapat di Kepulauan Nusantara ini, sebelum akhirnya tenggelam karena beberapa kejadian bencana alam hebat, seperti kenaikan permukaan air laut akibat kenaikan suhu bumi dan berakhirnya jaman es, letusan gunung berapi besar yang menyisakan danau toba sebagai bekas letusan dahsyat, serta letusan gunung Krakatau yang akan memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Semua bencana alam ini juga mengakibatkan tsunami yang diperkirakan berkekuatan 10 kali lebih dahsyat daripada apa yang terjadi di Aceh beberapa tahun terakhir ini.

Masyarakat yang tinggal di daerah ini, akhirnya, meninggalkan daerah bencana ini dan menyebar ke seluruh dunia, dengan membawa kearifan budaya mereka untuk membangun peradaban di tempat baru mereka masing-masing.

Inilah seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia bahwa negara kita adalah negara yang sudah punya kebudayaan sendiri yang tinggi. Kebanggaan ini semestinya bisa mengobati ‘penyakit’ inferior complexity yang menjangkiti kebanyakan orang Indonesia saat ini sehingga harus meminjam kebudayaan-kebudayaan asing untuk mengembalikan kepercayaan diri.

Jadi kita ini adalah bangsa yang sudah berbudaya. Dan budaya kita, bukanlah budaya impor, termasuk impor dari India, melainkan masing-masing mempunyai kebudayaan sendiri sehingga bisa saling memperkaya khazanah budaya masing-masing lewat pertukaran kebudayaan dan perdagangan.

Sudah saatnya kita sendiri membenahi diri kita sendiri. Salah satunya dengan membiasakan diri untuk meminum susu karena walaupun taraf rata-rata ekonomi India dan Indonesia sama, tapi menurut Pak Siswono Yudohusodo, konsumsi susu di India bisa 10 kali lipat lebih banyak daripada konsumsi susu di Indonesia. Padahal susu adalah salah satu unsur gizi yang diperlukan seorang anak dalam masa pertumbuhan otaknya.

Globalisasi adalah suatu keniscayaan sehingga tidak bisa dinafikan atau dihindarkan. Karena itu, penguasaan bahasa Inggris adalah keharusan bagi kita semua agar siap menghadapi arus globalisasi.

Walaupun sekarang GDP (Gross Domestic Product) Indonesia selalu tumbuh, tapi pertumbuhan ekonomi ini tidak merata dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia, hanya segelintir keluarga-keluarga kaya dan perusahaan-perusahaan besar saja. Maka dari itu timbul kantong-kantong kemiskinan di Indonesia, dan menjadi lahan subur bagi perkembangan terorisme di Indonesia, dan bahkan dunia.



Maka itu, sudah saatnya para mahasiswa bersatu dan berkarya bagi bumi pertiwi ini. Lepaskan jaket almamater masing-masing kampus dan bersatu untuk menolak penjajahan ekonomi, dan pembodohan lewat aksi-aksi terorisme yang dilakukan di negeri kita sendiri. “Kita semestinya bersama-sama membenahi pendidikan kita, agar tidak lagi timbul bibit-bibit terorisme dalam masyarakat Indonesia,” kata Bapak Anand Krishna mengakhiri acara diskusi kebangsaan NIM hari ini. Agar, Indonesia tidak lagi menjadi lahan subur bagi para teroris untuk menjalankan aksi-aksi mereka. Karena hanyalah dengan pendidikan, kita bisa membangun Indonesia menuju peradaban yang lebih baik. Indonesia Jaya! (Ist/jb)