PIAGAM KEBANGKITAN INDONESIA 2005
Bahwa proklamasi kemerdekaan fisik oleh para pendiri bangsa di tahun 1945
dan diteruskan melalui pembangunan di segala bidang kehidupan, bukanlah
sebuah proses yang sudah selesai. Lebih mendasar dari itu, kemerdekaan jiwa
bagi setiap anak bangsa harus terus diwujudkan dan diperbaharui, sebagai
pondasi utama dalam membangkitkan Indonesia, yang akan memainkan peranan
aktif menuju sebuah masyarakat dunia yang tidak mengenal diskriminasi dalam
bentuk apapun. Satu bumi, satu langit, satu umat manusia.
Demi menuju masyarakat baru yang kita cita-citakan itu, kita perlu
meneguhkan komitmen untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dari
ancaman disintegrasi yang datang dari dalam maupun luar negeri. Dengan
berbekal nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tersebar di seluruh penjuru
negeri, kita semua, Putra-Putri Ibu Pertiwi, harus bersatu membangkitkan
bangsa ini dan membersihkan setiap jengkal tanah air Indonesia dari belukar
kesadaran rendah yang tidak mampu melihat kesatuan di balik keragaman budaya
Nusantara.
Kepicikan dan kebodohan, sebagai faktor kunci bagi keretakan hubungan kita
sebagai anak-anak bangsa, merupakan musuh utama yang harus dilenyapkan dari
bumi Indonesia. Sekarang saatnya menjadi sadar dan menengok kembali sejarah dunia yang selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, tak mampu beranjak
maju menciptakan manusia-manusia baru, akibat ribuan perang atas nama agama,
kepercayaan dan ideologi, yang telah mensia-siakan begitu banyak nyawa.
Kepicikan dan kebodohan yang sama tidak boleh lagi terulang di tanah yang
mulia ini.
Laki-laki, perempuan, pemimpin, rakyat jelata, Islam, Kristen - Protestan
maupun Katolik - Hindu, Buddha dan semua komunitas etnis dan suku yang
meyakini Kemahaesaan dan Kemahahadiran Tuhan, tak terkecuali, adalah
Putra-Putri Ibu Pertiwi. Semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk
berbhakti, mengabdi dan menciptakan keadaan yang lebih baik di atas dunia,
bagi generasi yang akan datang. Di setiap bidang kehidupan dan di mana pun
kita berada, kebangkitan jiwa harus tercermin dan mewujud dalam setiap
ucapan dan tindakan.
Hanya dengan kesadaran baru, hanya dengan jiwa yang sudah bangkit, kita akan
mampu mengatasi berbagai persoalan lainnya yang dihadapi oleh bangsa ini.
Ketertinggalan dan ketidakmandirian dalam bidang ekonomi; tata pemerintahan
dan perpolitikan yang tidak berorientasi pada pelayanan rakyat, penuh intrik
dan korup; pendidikan bermutu rendah; serta keterbelakangan dalam percaturan
internasional, hanya mungkin diatasi oleh mereka yang jiwanya telah bangkit.
Karena krisis multidimensi pada dasarnya adalah krisis budaya, krisis budi
dan hridaya yang meliputi pikiran dan rasa, yang berakar pada kesadaran dan tak mungkin diatasi dengan pendekatan yang melulu teknis dan parsial.
Pendekatan holistik atau menyeluruh hanya dapat diwujudkan oleh anak-anak
bangsa yang berjiwa utuh, yang menjiwai Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma
Mangrwa. Berbeda-beda tapi satu adanya, tak ada Kebenaran yang dua.
Bangunlah Jiwa, Bangunlah Raga. Demi Ibu Pertiwi, Indonesia Raya!



